Readers

Memori Masa Kanak-Kanak Dalam Happy Go-Lucky (1997)

http://btth.pl/wp-content/uploads/2013/11/Beztroskie-Lato.jpg 

Happy Go Lucky (Natsu jikan no otonatachi) // 1997 // Sutradara : Tetsuya Nakajima, Jepang // Pemain : Hidaka Yoshitomo, Nagi Noriko, Maki Ishikawa, Hiroko Taguchi, Rina Komuro

Tulisan ini mengandung spoiler.

Happy Go Lucky (1997) membawa ingatan saya pada sebuah kejadian di masa kecil. Waktu itu di masa SD, saya bukanlah orang yang unggul dalam pelajaran olahraga bahkan bisa dibilang sangat lemah. Saya tidak bisa main basket, tidak jago lari, tidak tahu cara memukul bola yang baik, pokoknya setiap pelajaran olahraga datang saya selalu benci dan mengeluh. Semua dikarenakan pada satu permainan yaitu lomba lari estafet saya salah arah dan habis-habisan dimarahi guru olahraga saya. Teman-teman saya juga kemudian mengejek dan menertawakan saya. Semenjak itu saya selalu benci, putus asa dan menyimpulkan bahwa sampai kapanpun saya tidak akan pernah jago untuk pelajaran olahraga. Hal ini juga berlanjut sampai saya SMA dimana setiap pelajaran olahraga saya lebih banyak membolos daripada ikut. Nilai pelajaran olahraga pun rata-rata. Efek yang paling buruk adalah saya menjadi takut diremehkan dan rasa kepercayaan diri saya sangat turun setiap kali ikut serta dalam pelajaran olahraga. Saya kemudian hari baru sadar bagaimana hal-hal "sepele" di masa kecil semacam itu bisa membekas dan mempengaruhi bahkan sampai ke masa dewasa. Inilah yang ingin disampaikan oleh Happy Go Lucky. 

  
Happy Go Lucky, rupanya adalah film perdana Tetsuya Nakajima-----walau Wikipedia juga mencantumkan keterlibatannya dalam film Bakayaro! I'm Plenty Mad di tahun 1988. Dalam Memories of Matsuko (2006) yang sejauh ini merupakan yang paling saya suka dari filmografinya (walau saya belum nonton Kamikaze Girls dan Paco) dimana Tetsuya Nakajima menghadirkan cerita tragis yang bertubrukan dengan warna-warni cerah sehingga membuat film tersebut terasa miris dan depressing. Confessions (2010) karyanya yang juga sempat mengukir prestasi masuk seleksi Best Foreign Language Film Oscar juga tegas memberikan semburat kelam pada ceritanya, walau menurut saya masih kalah ketimbang emosi saya saat menonton Memories of Matsuko. Happy Go Lucky mungkin tidak semuram Confessions atau membawa cerita semenyedihkan Memories of Matsuko, tapi Happy Go Lucky seperti layangan ringan yang menarik kita kembali ke memori masa kanak-kanak, mengunjungi pemikiran-pemikiran anak kecil tentang dunia sekitarnya juga tekanan yang dihadapinya untuk merasa bisa diterima. Tentu karena manusia macam kita ini biasanya yang paling sentimentil tentang kenangan, film ini kemudian jadi memiliki aura miris seperti dua film di atas juga. 




Pertanyaan-pertanyaan polos itu hadir lewat sosok Takashi (Hidako Yoshitomo) yang tidak bisa mengerti kenapa gurunya bilang bahwa keberhasilan melakukan back pull-over itu sangat menentukan masa depan mereka. Sang guru memberi wejangan singkat : bila mereka menyerah melakukan back pull over, di masa depan mereka akan selalu melarikan diri dari kewajiban dan menjadi pecundang. Takashi bersama empat temannya yang lain (salah satunya Tomoko, seorang anak cewek kurus yang lama-lama ditaksirnya) pun saling membantu dan selalu berlatih back pull over setiap pulang sekolah. 

Kebingungan Takashi sebenarnya bukan tanpa alasan. Ia sendiri sebenarnya bertumbuh di keluarga yang sedang “bingung”. Ayahnya, Atsuo (Ittoku Kishibe) semenjak kecelakaan, lebih suka berdiam di kamar, melihat seorang siswi yang di-bully dari luar jendela dengan datar tanpa menolong, sambil terus mengingat satu peristiwa di masa kecilnya yang membekas. Ibunya tak jauh berbeda, selain menonton televisi (yang saya simpulkan sebagai pelariannya dari keadaan rumah yang membosankan dan suami yang dianggap sebagai sosok tidak bertanggung jawab) juga punya kenangan membekas tentang ibunya yang sudah meninggal. Keluarga yang bingung dan agak-agak disfungsional ini juga dilengkapi kehadiran Natsuko (Chigusa Simamura) kakak Takashi yang suka berdandan menor dan menciumi adiknya sendiri sepulang sekolah. 

Meski ini karya Tetsuya yang paling rindang ketimbang Memories of Matsuko atau Confessions, masih terselip semburat frustasi saat menontonnya. Memang tidak ada cerita balas dendam tragis ala Confessions atau cerita pahit hidup seperti Memories of Matsuko, tapi bagaimana Happy Go-Lucky berusaha mempresentasikan memori masa kanak-kanak punya impas dan meninggalkan ampas pada pemiliknya seperti yang ditunjukkan dalam sosok ayah dan ibu Takashi bahkan Takashi sendiri. Happy-Go-Lucky memberi pukulan telak lewat rasa kebersalahan yang kelewat sensitif terhadap masa lalu, sehingga bisa jadi penonton merasa menonton cerminan personal dengan kehidupannya sendiri.

Penceritaannya sendiri cukup runut, sebelum secara penuh ditampilkan pada masalah yang Takashi hadapi, kita diperkenalkan pada pengalaman sang ayah menghadapi momen masa kanaknya. Ketika kecil, sang ayah yang jago menggambar ternyata punya penyesalan karena tidak bisa menggambar suatu objek pemandangan sesuai realitanya. Pemikiran sang ayah----di masa kecil dan mungkin sampai terbawa di masa sekarang-----bahwa ia tidak ingin dibedakan atau dianggap spesial, dan seharusnya ia bisa menggambar objek itu dengan cara biasa saja seperti teman-temannya yang lain. Kesedihan sang ayah dan rasa menyesal itu ternyata memberi bekas di ingatannya sampai dewasa.
 Berbeda lagi dengan Junko, sang ibu. Junko kembali mengunjungi memori masa kanak-kanaknya ketika usai berkunjung di pemakaman ibunya. Sebuah rumah yang dulu menjadi tempat tinggal semasa ibunya masih hidup, membawanya pada cerita masa kecil tentang ketakutannya dan kepolosannya mengira ibunya sendiri adalah seorang wanita ular. Serupa dengan suami, Junko terus terbayangi ingatan itu yang membawa kerinduannya pada sosok ibu tercinta.

Sekarang, Takashi, sang tokoh utama lah yang menghadapi masa kanak-kanak itu. Problema yang menimpanya pun sebesar apa yang dulu dirasakan ayah dan ibunya. Namun disinilah kekuatan Tetsuya Nakashima menampilkan struggle Takashi menghadapi tekanan yang diterimanya disaat umurnya baru belasan, ketika problem pull-over itu juga terasa membebani kita sebagai penonton. Kita melihat ia dan keempat temannya yang lain berlatih sepulang sekolah, bekerja keras agar tidak menjadi seperti yang dikatakan guru olahraga mereka. Guru olahraga dalam film ini sebenarnya adalah sebuah cerminan para pendidik yang biasa mendidik mental para muridnya dengan tegas. Mungkin bermaksud baik untuk memberikan motivasi namun kita tahu pola pikir anak kecil tentu masih belum mengerti benar. Masalah bisa-tidaknya mereka melakukan back pull-over dan membawa embel-embel mereka akan menjadi pecundang atau pemenang di masa depan kemudian datang menjadi sebuah tekanan kepada anak murid agar wajib menguasai satu pelajaran, agar dianggap sama seperti teman-temannya. Mungkin ini juga yang ada dalam pikiran ayah Takashi di masa kecil ketika gambarnya dipuji semua orang karena berbeda, padahal ia ingin dianggap sejajar dan sama dengan teman-temannya.

 Ini sebenarnya potret yang miris menggambarkan bagaimana pola pendidikan di sekolah sekarang ini : bahwa semua anak diperlakukan sama dan harus pula menempuh hasil yang sama, sehingga keinginan menjadi istimewa, berbeda, diluar aturan adalah sesuatu yang salah dan dianggap buruk (setidaknya inilah yang dirasakan Atsuo dan Tomoko). Ada lagi satu tokoh teman Takashi di film yang digambarkan memberontak pada aturan sekolah dan kemudian sang guru kembali memberi wejangan tentang pentingnya mengikuti peraturan bila tidak ingin gagal di masa depan. Disini Tetsuya Nakashima menyindir bagaimana sistem pendidikan yang kaku sangat mempengaruhi pola pikir anak sampai terbawa ke masa dewasa dan ikut menjadikannya manusia yang kaku atau malah bisa jadi memberikannya bekas trauma sedikit atau banyak.

Selepas menontonnya, saya berpikir kembali tentang masa kecil saya dan kejadian lomba estafet masa SD itu. Kejadian itu mungkin sekarang tidak ada artinya atau bisa saya lupakan begitu saja, namun berbeda karena waktu itu saya berumur belasan awal, saya tidak ingin dianggap aneh, menyimpang dan dibedakan dengan teman-teman saya yang lain. Saya mengerti perasaan anak yang tidak bisa back pull-over atau saya bisa memahami bagaimana kemudian ayah Takashi punya ingatan sangat membekas tentang kejadian sepele di masa bocahnya.  Pun juga Junko, ibu Takashi yang menanam memori tentang orang tersayang lewat cerita wanita ular. Karena ketika kita kecil, semua rasanya sangat berharga. Ketika kecil, semua hal-hal terasa sangat berarti, bahkan sadar atau tidak dapat membawa dampak sangat besar sampai kita dewasa. Film ini ingin menyampaikan sisi pahit-manis itu, pertanyaan-pertanyaan polos dari sudut pandang anak kecil. Salah satu pertanyaan Takashi menjelang akhir film, “kenapa ada hal yang kita ingat dan ada pula yang kita lupa?” sekaligus menjadi awal perkenalannya dengan kehidupan, sebelum mengenal dunia yang lebih besar lagi.

Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters