Readers

Catatan Menonton Tahun 2013

Saya tidak tahu mau menghadiahkan apa untuk dibaca. Saya bukan golongan yang langsung menonton film begitu premiere, bukan juga bagian dari mereka para master-master moviebuff yang kejar tayang menonton film-film "tidak umum". Status saya sekarang hanya penonton malas-tak-malas yang menonton apa saja yang ada di file laptopnya. Jadi sebut saja ini semacam penebusan dosa bahwa saya wajib mengulas dari belakang lagi apa saja yang sudah saya tonton selama ini. Akan diusahakan agar program "mini reviews" ini akan selalu ada. Semoga ternikmatkan.

Warning : resensi mungkin mengandung spoiler.




1. 5 CENTIMETERS PER SECOND (2007, Makoto Shinkai)



5 Centimeter Per Second bisa menjadi sangat personal bagi mereka yang pernah mengalaminya, sementara yang lain mungkin bisa bilang ini hanya "cerita cinta tentang dua orang yang tidak bisa move on". 5 Centimeters Per Second bukan saja tentang cinta yang gagal, jarak yang membuat melupakan, atau perasaan-perasaan tak tersampaikan. Lebih dari itu, film ini salah satu contoh terbaik untuk kasus tumbuh-kembang relationship khas manusia : ada perjumpaan, perpisahan, dan apa yang melatarbelakangi keduanya. Seringnya kemerosotan suatu hubungan, bukan alasan eksternal lah yang menjadi dalangnya, namun ego dan faktor internal diri sendiri. Film ini mampu menangkap itu semua, membaca "jarak" lebih dari tentang terpisahkan oleh tempat dan waktu, tapi tentang hati yang secara perlahan mulai acuh-tak-acuh. Bisa dibilang film ini saudara sedarah dengan Blue Valentine-nya Derek Cianfrance. Oh, dan jangan lupakan, lagu One More Time, One More Change - Yamazaki Masayoshi yang mengiringi di akhir film. Semakin menyayat-nyayat hati.


Favorite scene : Adegan akhir menjelang film dengan One More Time, One More Change diputar sebagai latar. Kemudian film berputar kembali, flashback dari awal sampai bagaimana kehidupan mampu "menjauhkan" sepasang yang saling cinta. Banyak momen manis sekaligus miris yang tergambar dalam potongan adegan per adegan itu. Sampai tepatnya di akhir.... ah. Begitulah. Tonton saja.





2. THE IMPOSSIBLE (2012, Juan Antonio Bayona)


Ini adalah cerita tentang bagaimana bencana bukan tentang membuat kita terpisah dari keluarga, namun malah membuat kita menghargai kembali proses pencarian eksistensi “keluarga” itu sendiri.  Meskipun dalam The Impossible, tipe keluarga yang ditampilkan adalah “keluarga biasa-biasa saja” tanpa permasalahan berarti, bencana itu mendatangkan banyak kesadaran, rasa syukur serta kepedulian bukan hanya kepada darah daging sendiri namun juga pada permasalahan orang-orang sekitar. Terlepas ada bagian kecil yang rasanya terlalu predictable, saya suka bagaimana film ini mampu mengaduk-ngaduk emosi dan penggambaran bencananya yang mendatangkan perasaan emosionil tersendiri. Naomi Watts tampil gemilang,  dan saya rasa tugas pembuatnya membuat sebuah drama keluarga ditengah bencana sudah lebih dari mengesankan.



Favorite scene : Adegan ketika Tsunami menerjang dan beberapa menit setelahnya. Cukup membuat perasaan turut tidak nyaman dan juga sangat ketakutan. Setelah menonton filmnya pun saya masih terbayang betapa menakutkannya andai saya jadi Maria atau Lucas.



3. 500 DAYS OF SUMMER (2009, Marc Webb)


Juga merupakan film tentang proses tumbuh-kembang relationship antar manusia. Bedanya, 500 Days of Summer mampu tampil segar dengan gaya bercerita acak, sekaligus jadi inovatif di tengah banjir romcom klise era 2000-an. Setuju untuk yang bilang ini adalah Annie Hall bagi generasi milenium, dengan dua tokoh saling-bertolak belakang namun diperbaharui dalam sosok pemuda-pemudi kota besar jaman sekarang. Satunya cukup naif, satunya (sok) tidak percaya cinta. Sepanjang film dari awal kita melihat kedua tokoh begitu yakin dengan pemikiran dan sudut pandang masing-masing, namun ternyata mereka hanyalah anak-anak manusia yang belum terlalu kenal dunia. Dua tokoh ini adalah refleksi untuk generasi remaja era digital/socmed yang begitu pede dengan pemikiran-pemikirannya terhadap suatu hal besar (pede juga menyuarakannya) namun mungkin juga cuma sekedar omong doang.




Dua-duanya juga lahir dalam latar belakang keluarga broken home. Filmnya juga dengan luwes menyatakan eksistensi  "hubungan tanpa status" sebagai satu bentuk gaya baru asmara modern yang diakui, selain "pacaran" dan "tidak pacaran". 500 Days of Summer bukan saja mewakili semangat youth culture 2000-an, namun keseluruhan kemasannya begitu riil dengan kehidupan sekitar kita, termasuk dua tokoh utamanya. Manusia-manusia "misunderstanding" macam Summer Finn - Tom Hansen masih banyak berkeliaran di luar sana.



Favorite Scene : Duh. Bingung saya mau bilang mana adegan yang paling saya suka. Terlalu banyak. Mau bilang adegan bertemu di lift dan Summer menegur Tom yang sedang mendengar The Smiths? Adegan mereka lari-lari di area meubel seperti anak kecil saling dimabuk cinta? Adegan Expectations VS Reality? Adegan Summer - Tom saling mesra sampai akhirnya Summer bercerita tentang mimpinya yang kesepian? 






4. A BETTER TOMORROW (1986, John Woo)

Saya pernah menulis resensinya disini. Salah satu film action dengan hati, bukan cuma bak-bik-buk intrik gejedak-jeduk belaka. Dalam beberapa film, John Woo memang ingin bercerita banyak tentang ikhwal "gangster vs polisi" bahwa gangster tak selalu jahat, dan polisi pun bukan pihak paling suci. Relasi intim sepasang tokoh yang berbeda kubu juga muncul dalam The Killer dan Hard Boiled, sejauh ini yang paling saya suka ada dalam A Better Tomorrow. Lebih hebatnya lagi John Woo juga menambahkan konflik penyangkalan identitas manusia saat menjalani profesinya itu. Jadilah film-filmnya lebih dari sekedar film mafia-mafiaan biasa.


Leslie Cheung - Ti Lung mampu tampil emosional membawakan peran kakak-adik yang terbalut jurang profesi sementara Chow Yun Fat tetap diberi posisi agung yang membuat eksistensinya tak akan mungkin dilupakan. Salah satu film terbaik dari ketiganya, dan tidak ada satupun yang menggeser posisi vital peran masing-masing. John Woo juga tidak lupa tetap bergaya : lewat adegan-adegan slow-motion, penyisipan trik khas "mexican stand gun" yang juga muncul di film-film action nya yang lain. Yang memorable dalam film ini juga iringan musik dari lagu yang dibawakan Leslie Cheung.



5. IKIRU (1952, Akira Kurosawa)

Ikiru adalah klasik yang sempurna, seorang Akira Kurosawa, dengan Takashi Shimura yang tampil hebat sebagai pria tua dalam masa-masa menghitung ajalnya. Ikiru tidak mungkin tidak dibilang sebagai salah satu film terbaik yang pernah ada, begitu selesai menontonnya kita pun sama-sama akan memikirkannya : bukan hanya tentang Watanabe, tapi tentang apakah ada Watanabe dalam setiap diri kita?

Saat menonton film ini, sempat mengingatkan pada Tokyo Story – Yasujiro Oda. Bila Tokyo Story menawarkan cerita tentang orangtua yang mesti “ditinggalkan” anak-anak mereka karena kehidupan, Ikiru sempat menangkap cerita itu juga, walau lebih fokus pada bagaimana seorang manusia mesti bergulat antara batas waktu hidupnya dan prosesnya untuk merasakan bahagia. Kesamaan lain juga terletak pada saat Watanabe bertemu Toyo, gadis muda di tempat kerjanya yang sifatnya sangat ceria dan lepas-----perbandingan dengan Watanabe yang nyaris muram tanpa semangat. Ikiru dan Tokyo Story menangkap satu kesamaan : bahwa kadang eksistensi keluarga malah ditemukan dalam jati diri seseorang diluar lingkup keluarga itu sendiri (dalam hal ini mungkin kerabat luar yang tidak memiliki hubungan darah).  Kalau tidak salah, Ibunda – Teguh Karya juga sempat menegaskan hal ini ketika sosok sang Ibunda lebih terasa dekat dengan sosok salah satu pemuda yang ngekos padanya (diperankan Kaharuddin Syach) ketimbang anaknya Vikar.  Eksistensi dari “keluarga nyata” saat seorang manusia beranjak memasuki paruh tua adalah sesuatu yang kemudian patut kita pertanyakan dan mungkin memang benar adanya, sebagai pesan bahwa sebenarnya kita sekarang semakin jauh dengan orangtua.

Yang menarik untuk dibaca dari Ikiru juga memang adalah dengan kehadiran Toyo yang membuat sepanjang film terasa lebih “bernyawa”. Miki Odagiri memerankan seorang gadis yang penuh semangat, lepas dan luwes berkata-kata, menjalin chemistry ndah dengan tokoh protagonis kita yang semenjak dari tadi nampak kaku, muram dan menyedihkan. Saat kamera menyorot kebersamaan mereka, rasanya membuat saya senang, seakan-akan bahwa Watanabe akhirnya bisa menemukan petunjuk tentang kebahagiaan lewat satu sosok yang nampak puas dan penuh keyakinan layaknya Toyo.



Adegan menjelang penutup saat semua orang berkumpul menghadiri upacara kematian Watanabe menangkap suatu hal lagi : bahwa ketika seseorang meninggal, yang kemudian tertinggal hanyalah pembicaraan meliputi orang itu, sahut-menyahut dan ingatan dari mereka yang mengenalnya, begitu pula bagaimana kita mau tak mau jadi lebih jeli merenung pada sosok yang sudah meninggal. Akira Kurosawa hebat menangkap semua itu ; ia menggambarkan beragam jenis orang yang telah ditinggalkan Watanabe namun semuanya memiliki respon yang berbeda-beda saat upacara kematian, kita melihat ada yang masih menentang, sibuk berceloteh, sangat simpati dan menjadi sentimental, bahkan ada yang berkoar-koar ingin sehebat Watanabe namun pada akhirnya cuma basa-basi belaka. Pada keseluruhan yang disampaikan film itu, sebenarnya ada sesuatu yang sedang dikatakan Akira Kurosawa bahwa begitulah tabiat orang-orang saat berkabung. Mengingatkan pada saat saya membaca roman Bukan Pasar Malam – Pramoedya Ananta Toer yang juga menuturkan pesan yang sama. Kematian diterima sebagai  suatu hal yang memang akan selalu terjadi, dan bagaimanapun memilukannya, akan tetap ada kehidupan dan fakta manis-pahitnya.

Menonton Ikiru seperti pengalaman memaknai kehidupan itu sendiri.

Favorit scene : Banyak. Tapi yang paling saya pribadi suka adalah adegan-adegan Watanabe bersama Toyo. Untuk pertama kalinya Watanabe terlihat “menikmati” hidup. Toyo seperti memberinya petunjuk, bahwa hidup bisa terlihat menyenangkan. 



Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters