Readers

Mengintip Lebih Intim Dalam Jakarta Maghrib



Jakarta Maghrib // 2010 // Sutradara: Salman Aristo, Indonesia // Pemain:Lukman Sardi, Ringgo Agus Rachman, Adinia Wirasti, Reza Rahadian, Indra Birowo, Desta

Saat saya menonton Jakarta Hati (2012) saya jadi penasaran untuk menonton Jakarta yang lebih awal, yaitu Jakarta Maghrib (2010) ini. Jakarta Hati mungkin bukan film yang luar biasa, namun film itu cukup hangat, segmen-segmen yang menarik meskipun sepertinya saya perlu menonton ulang untuk bisa menulis resensinya kembali. Seusai menonton Jakarta Maghrib, perasaan yang sama kembali terulang. Film ini hangat. Akrab. Meskipun saya tidak hidup di ibukota, tapi harus diakui bahwa Salman Aristo pintar menggali keseharian dan hubungan personal antar manusia menjadi nyaman untuk disaksikan. Walau sekali lagi-----sekasus dengan Jakarta Hati, film ini juga bukan film luar biasa. Sehabis menyaksikan, banyak pemikiran menarik yang ingin saya utarakan (segmen per segmen). Ini dia.



IMAN CUMA INGIN NUR (12 menit)
Sebenarnya segmen pertama ini bukanlah segmen dengan durasi terpendek (durasi terpendek adalah Adzan) namun entah kenapa saya merasa segmen ini sekedar hanya melintas. Iman Cuma Ingin Nur menunjukkan potret masyarakat kelas bawah (Iman adalah satpam) dan suatu waktu dimana ia terdesak kebutuhan seksualnya pada sang istri, Nur. Maghrib kemudian "memaksa" mereka untuk tidak sempat menuntaskan kepuasan birahi masing-masing karena pantangan dan kepercayaan yang dipegang sejak lama.

Dalam satu dialog yang memperlihatkan Nur bilang "lagipula emang anak ga boleh tidur kalau maghrib begini" serta batalnya mereka melakukan hubungan seks, menandakan kelas bawah memaknai maghrib sebagai "sesuatu yang tidak boleh diganggu gugat" karena itu salah satu momen religius, tampak dalam gambaran Iman dan Nur yang patuh mengikuti pola pikir seperti itu. Meski segmen pembuka ini tidak buruk, sebenarnya saya mengharapkan sesuatu yang lebih lagi ketimbang hanya berlalu belaka. Tapi buat sebuah gerbang masuk menuju segmen selanjutnya, ya bolehlah.

Rate  3/5

ADZAN (6 menit)
Adzan juga merupakan segmen dimana Maghrib diidentifikasi sebagai momen religius yang sakral, namun bila segmen pertama memotret sepasang suami-istri dengan konflik kecil, Adzan menabrakkan dua orang dengan jurang pemikiran yang saling berbeda------seorang pemabuk dan seorang penjaga warung yang taat adzan di mushola. Konflik tentang dua orang yang berbeda tabiat inilah yang membuat Adzan meskipun durasinya lebih pendek dari segmen pertama, menyimpan kepentingan cerita yang lebih kuat dan menarik untuk disaksikan. Seperti dalam sinetron atau ftv religi umumnya, kita sering menemui situasi preman (orang zalim) bertemu ustadz (orang alim) dan bisa tertebak pula kemana arah segmen ini akan berorientasi. Pertobatan atau kembali ke jalan yang benar adalah isu yang dikemukakan segmen ini, walau tetap saya merasa kasusnya sama dengan segmen pertama : terlalu pendek, kesannya malah tergesa-gesa padahal ada beberapa adegan yang harusnya diberi pace lebih lambat dan mengalir. Meski begitu, segmen ini memang punya makna yang lancar sekaligus sindiran yang tepat guna, coba lihat diakhir cerita dimana para warga merasa terganggu dengan adzan dan akhirnya memilih mendatangi mushola. Padahal biasanya mereka tidak pernah hirau, namun karena seseorang yang dianggap pendosa "melecehkan" tempat agama, mereka pun langsung sigap bertindak. Satir macam ini yang dengan mulus membuat Adzan-----terlepas dari kekurangannya, menjadi segmen yang membuat kita merefleksi ulang kaitannya dengan potret sosial masyarakat yang urakan juga tentang permasalahan oknum-oknum agama dewasa ini. Jempol untuk Salman Aristo.

Rate 3/5

MENUNGGU AKI (15 menit)
Ini segmen terbaik menurut saya. Menunggu Aki adalah cerminan masyarakat kelas menengah-----bahkan bisa lebih jauh sebenarnya sedang mempresentasikan generasi masyarakat kota besar sekarang ini. Menunggu Aki adalah tentang bagaimana keadaan "mendesak" kita untuk berbaik hati basa-basi dengan tetangga sebelah, karena selama ini rutinitas (dan pola pikir diri sendiri) tidak mengindahkan untuk menyisakan waktu berramah-tamah dengan lingkungan sekitar. Di era teknologi, dimana masyarakatnya dikatakan sebagai "generasi menunduk" dan menjadi lebih individualistis, kebutuhan orang untuk berjumpa dan berkenalan dengan orang baru sudah diambil alih oleh social media, dan bahkan disana lebih menguntungkan karena kita bebas memilih siapa saja untuk berkenalan. Adalah lucu bagaimana sikap individualistis manusia di jaman modern suatu hari mesti terkalahkan oleh momen tak disengaja : ketika menunggu abang langganan nasi goreng tak kunjung tiba. Segmen ini sangat-sangat keseharian, kamu pasti pernah menemukan terjebak secara tidak sengaja saat mengantri makanan dan akhirnya mulai mengobrol dengan orang asing disebelahmu. Salman Aristo membedah keunikan itu menjadi lebih jauh lagi : ia juga menyeret dan sedang menyindir fakta-fakta di lapangan tentang sifat generasi masyarakat kota besar. Pada percakapan orang-orang itu kita bisa melihat bagaimana obrolan mereka terasa saling pas, seperti sebuah kelompok yang mewacanakan sesuatu dan saling cocok. Ketika kemudian satu tokoh mengusulkan untuk "merealisasikan" inti obrolan mereka waktu itu, semua langsung emoh. Itulah letak kelucuannya. Sebenarnya Salman Aristo sedang menyindir generasi omong doang seperti kita, yang hanya tekun sebatas status atau tweet belaka, namun ciut dalam tindakan nyata. Segmen ini dibuka dan ditutup dengan sangat bagus, dengan interpretasi yang dapat saya tangkap dengan lengkap. Setiap gerak-gerik, kecanggungan antar karakter saat bercakap malah merupakan kelebihan segmen ini, karena itu sebenarnya sedang mencirikan realita yang kita hadapi bila tidak sengaja mesti terjebak bersama orang asing. Disini juga kamera menggunakan metode long shot yang menarik, bergerak menyorot satu persatu tokoh yang kemudian semuanya saling berkumpul. Saat kamera mengamati mereka saling bercakap, ada perasaan akrab yang ikut menyelimuti, seakan kita juga merupakan salah satu orang asing yang ikut asyik melebur didalamnya. Namun begitu pula basa-basi yang harus diakhiri, ketika di akhir cerita maghrib menyapa, seorang demi seorang mulai pamit pulang. Maghrib dimaknai sebagai bel pulang pengingat bahwa manusia kembali saling mengasingkan diri, saling melepas ikatan sosial satu sama lain.

Rate 4/5

CERITA SI IVAN (10 menit)
Cerita Si Ivan bisa jadi cuma segmen biasa dengan ceritanya yang tak seberat segmen-segmen sebelumnya, melainkan hanya pelengkap tentang interpretasi lain tentang Maghrib. Selain sebagai momen sakral dan bel  pertanda pulang para pekerja kota besar, Maghrib dalam segmen ini adalah sebuah titik keramat. Ingat kata-kata yang disampaikan sejak dulu dari ibu-nenek kita? "Jangan keluar pas maghrib-maghrib, nanti ketemu hantu" sebagai masyarakat yang masih mendewakan pantangan dan mitos, juga masih percaya dengan yang berbau mistik, Cerita Si Ivan hadir sebagai presentasi dari itu semua. Bukan segmen yang besar memang, namun menafsirkan Maghrib versi masyarakat Indonesia ya memang tidak boleh meninggalkan desas-desus perihal urban legend seperti yang coba ditampilkan segmen ini.

Rate 3/5



JALAN PINTAS (20 Menit)
Segmen dengan durasi terpanjang. Jalan Pintas adalah tentang hubungan personal pasangan muda, dalam perjalanan menuju tempat yang dijadwalkan harus sampai sebelum Maghrib. Pertentangan dan konflik membuat keberadaan dialog teramat penting di segmen ini, untunglah Reza Rahadian dan Adinia Wirasti punya chemistry kuat (terlebih Adinia Wirasti) yang mampu membuat segmen ini terasa menggigit dan menarik diikuti. Tabiat masing masing pasangan, ketidakcocokan dan momen klimaks untuk mengakhiri perseteruan dalam Jalan Pintas berjalan mengalir dan tak dipaksakan. Dalam kehidupan kota besar, perseteruan dalam hubungan personal karena alasan keluarga, kemapanan, dan karier adalah bumbu-bumbu tak terlepaskan. Jalan Pintas lah yang menampilkan potret itu, lengkap dengan tabiat "khas orang Jakarta" yang secara menonjol pada peranan Reza Rahadian. Sebenarnya saya pribadi kurang dapat menangkap keterlibatan vital Maghrib dalam segmen terakhir ini selain sebagai tenggat waktu harus sampai tujuan, namun mungkin bisa diartikan bahwa Maghrib dalam segmen ini datang sebagai latar conclusion dari sebuah klimaks relationship bermasalah.

Rate 3.5/5

BA'DA
Penutup dari semua cerita.

Seperti yang saya tulis di paragraf awal, menonton Jakarta Maghrib mendatangkan perasaan yang sama ketika saya menonton Jakarta Hati. Perasaan hangat dan akrab, meski memang hasilnya tak terlampau benar-benar istimewa. Untuk catatan lain, saat menonton Jalan Pintas, saya teringat dengan satu segmen berjudul Dalam Gelap di Jakarta Hati. Dua segmen itu mewakili kesamaan tema : tentang hubungan relationship pasangan muda yang punya masalah akut dan "dibongkar" habis-habisan hanya dalam suatu setting sempit (Jalan Pintas di mobil, Dalam Gelap di dalam kamar) bahkan Dalam Gelap, penonton dibuat "buta" dengan keseluruhan adegan karena perkara mati lampu (saya bahkan baru tahu pemainnya itu Agni Pratistha :D) disana bisa ditangkap adanya permainan eksplorasi yang lebih jauh dari Salman Aristo untuk bisa menghadirkan penonton lebih intim pada cerita, dengan menantang mereka menjadi saksi bisu tanpa mata.

Overall, usaha Salman Aristo dalam Jakarta Maghrib patut diapresiasi, sebuah film dengan ritme yang nyaman dan menarik untuk diikuti. Mari tunggu apa cara Salman berikutnya untuk menerjemahkan cerita-cerita baik tentang permasalahan sosial, hubungan relasi antar manusia, atau cerita besar di sudut-sudut kecil menjadi sebuah karya yang menghangatkan lagi. Biar kita siap-siap mengintip lagi.

Final rate : 
 




Comments

  1. Aish, se-idem kita min, Menunggu Aki itu segmen terbaik di Jakarta Maghrib, kapan lagi ada tukang nasi goreng masak pake arang?

    ReplyDelete
  2. haha ya oloh... gue baru baca ini langsung ngakak.

    ReplyDelete
  3. agni pratisha dibagian mananya si??

    ReplyDelete

Post a Comment

Other side of me

My MUBI

In Theaters