Readers

Megan Is Missing dan yang Membuat Jera



Megan Is Missing // 2011 // Sutradara: Michael Goi, USA // Pemain: Amber Perkins, Rachel Quinn



Gadis ABG itu bodoh. Dan film ini membuktikannya.

Seperti mockumentary pada umumnya, Megan Is Missing mempresentasikan ceritanya lewat fase per fase dari kamera pribadi dan interaksi webcam tokoh-tokoh utama, juga beberapa dari kamera lain, footage CCTV, laporan-laporan berita TV dan foto-foto yang berkesan faktual. Kreatifitas pembuatnya membuat Megan Is Missing terasa seperti cerita dockumentary yang disusun rapi, atau kalaupun kita sudah tahu sedari awal betapa palsu ini untuk bisa disebut realita yang benar terjadi, pembuatnya mampu menangkap sisi amatir yang membuat film ini nampak disusun layaknya potongan footage yang benar terjadi didunia nyata.



Ceritanya tentang Megan (Rachel Quinn), remaja 14 tahun yang hidupnya sudah terlampau sangat bebas. Diumurnya yang masih pantas dibilang ABG, ia sudah mencoba segala hal. Ia sering berpesta, minum alkohol dan menggunakan drugs, ia juga bukan seseorang yang asing dengan segala jenis seks dan bahkan sudah memulainya sejak berusia 10 tahun. Amy (Amber Perkins) bertolak belakang dari Megan. Berusia lebih muda, Amy masih perawan dan anak baik-baik. Meski sangat berbeda sifat dengan Megan, tapi mereka tampak saling nyambung dan sangat bersahabat. Film kemudian menunjukkan cerita perbedaan arus keluarga kedua tokoh berasal. Megan berada dikeluarga yang runyam, sehingga ia memilih untuk sekalian hancur. Amy berada dikeluarga baik-baik, namun ia malah merasa pecundang karena tak mampu seliar Megan. Tipikal problem remaja, bukan?

Cerita berlanjut pada Megan yang memiliki teman internet bernama Josh dan kemudian suatu hari, ia menghilang saat ingin bertemu cowok misterius itu. Amy selaku bestfriend merasa kehilangan sekaligus mencurigai sosok Josh. Film berlanjut dari sekedar presentasi cerita hidup sepasang remaja ababil menuju akibat dari kelabilan mereka.

[dua paragraf dibawah adalah SPOILER]

Megan Is Missing bukan film buruk. Menurut saya akting para pemainnya lumayan dan penyampaian ceritanya pun tidak jelek. Megan Is Missing juga memberikan alibi tersendiri untuk kasus kelemahan-kelemahan vital khas mockumentary kebanyakan. Bila sudah pernah menonton Chronicle (2012) pasti tahu betapa kebutuhan pada kamera sangat urgent untuk penceritaan dalam film itu. Sehingga Chronicle pun menyisakan sedikit rasa mengganggu pada penonton ketika para tokohnya harus selalu membawa kamera kemana-mana (dan dalam beberapa adegan rasanya  non-logis). Di Megan Is Missing, kasus serupa terjadi. Si pelaku kriminal (Josh) terlihat mempresentasikan penyiksaan yang ia lakukan. Namun adegan itu menjadi wajar mengingat alibi dari adegan sebelumnya. Ada dugaan Josh semacam psikopat yang terobsesi pada merekam tingkah laku sakitnya, dimana dua foto Megan dianiaya secara mengerikan beredar di internet. Siapa lagi pelaku yang dengan sadar melakukannya selain Josh?

Kelemahan terbesar film ini justru terletak pada lubang di beberapa plot. Amy tahu Josh mengancam dirinya, dan disekitarnya sedang gempar kasus menghilangnya Josh, tidakkah dirasa terlalu bodoh untuk kemudian tetap dengan santai pergi sendirian ketempat sepi macam jembatan? Oke, katakanlah Amy itu ABG, dan kebanyakan ABG itu memang bodoh, tapi tidakkah polisi dan keluarganya menjaganya tetap aman? Kasus hilangnya Megan secara misterius sedang terjadi dan Amy terlibat sebagai saksi kunci, tidakkah melindunginya dirumah dan membuatnya jauh dari akses internet dan tempat asing adalah keharusan? Bila memang orangtua dan pihak berwajib seceroboh itu, jangan salahkan kebodohan Amy.

Terlepas dari poin itu, ebagai mockumentary, Megan Is Missing cukup mengesankan untuk menyajikan penggambaran pergaulan bebasnya. Mungkin beberapa dari kita akan menggeleng-geleng kepala dan tidak percaya akan deskripsi kehidupan seksual remaja yang ditampilkan, namun saya mesti bilang itu memang terjadi di dunia nyata dan bukan hanya bualan Megan Is Missing. Film ini memperlihatkan dengan benar betapa gampangnya remaja-remaja ABG itu percaya pada orang asing, tidak peduli dengan risiko sekitar, dan tidak segan mencoba hal baru demi diterima dalam kasta sosial.

Ada beberapa momen amatir yang mampu menghadirkan aroma creepy di film ini. Jenjang cerita yang semakin berlanjut semakin mencekam bisa jadi meninggalkan rasa paranoid dan tidak enak sehabis menontonnya. Bila Trust (2011) dan Catfish (2010) dirasa terlalu lembut dan tak juga membuat kita mawas diri melihat fenomena predator dan segala macam jebakan internet, Megan Is Missing mungkin punya adonan efek yang bisa membuat jera. Dan bila plot bolong dan segala kelemahan di film ini menganggu logikamu, cukup ingat saja pesan moral yang berusaha disampaikan film ini.

Bahwa gadis ABG itu bodoh.


Rate : 3/5


Comments

Other side of me

My MUBI

In Theaters