Readers

Ibunda (1986) : Mencari Diri Ibunda Dalam Kicau Keluarga



Ibunda // 1986 // Sutradara: Teguh Karya, Indonesia // Pemain: Tuti Indra Malaon, Ria Irawan, Ayu Azhari, Alex Komang



"Ibu, buku yang habis kau baca, baru kubaca pada halaman pertama"

Biasanya, untuk mengerti satu karakter atau penokohan, cara paling mudah seorang pembuat adalah dengan secara langsung menerjemahkan pergulatan batin dan kompleksitas personality-nya dihadapan layar secara telanjang. Teguh Karya menolak mengambil jalan tersebut. Ia lebih suka menyembunyikan sang tokoh utama diantara jumpalitan permasalahan silih berganti dari anggota keluarga yang lain.Dalam Ibunda (1986, karya Teguh Karya pertama yang saya tonton) percakapan lancar dan tindak-tanduk luwes antar keluarga membuat film ini terasa dekat dengan keseharian kita. Sejak awal satu problema membuka problema lainnya, membawa kita ke satu tokoh yang disebut ke tokoh lainnya. Ada si bungsu Fitri (Ria Irawan) yang rada pemberontak dan sedang dipermasalahkan keluarga perihal hubungannya dengan pria Irian bernama Luke (Onny Mayor). Ada Fikar (Alex Komang) yang bahkan lebih rumit lagi karena ia telah meninggalkan istri (Ayu Azhari) dan anaknya demi wanita borjuis yang mampu "meninggikan" karirnya. Berentet-rentet anak-anak yang lain pun ikut menyelip : Farida (Niniek L. Karim) yang sering diposisikan sebagai tetua musyawarah dari segala sumber permasalahan, Fahri yang terlihat paling malas ikut campur, dan juga anggota keluarga lain mulai dari suami Farida dan cucu-cucu dari sang Ibu Rakhim (Tuti Indra Malaon), ibunda yang dimaksud dan dijadikan judul dalam film ini.

Menarik karena film ini mengambil judul Ibunda, namun yang disoroti sepanjang film adalah kompleksitas masalah tumpang-tindih dari karakter lain. Lalu apakah Teguh Karya sudah mengalami kesalahan fatal dalam penamaan judul? Tidak. Karena dalam film ini sosok ibu Rakhim memang dijalin sebagai tokoh tak terjamah, yang untuk melihat bagaimana dirinya adalah dengan menontoni kicau keluarganya. Tak pernah terlalu dijelaskan identitas lengkap sang Ibunda. Ia janda karena apa dan dengan siapapun tak terlalu dibahas. Pergulatan batinnya pun disampaikan dalam beberapa adegan secara tipis, lebih banyak kita lihat belokan plot-plot dari karakter lain sepanjang cerita. Dimana kita mencari sang ibu, apa yang ia cari, beban apa yang ia pikul, keinginan apa yang ia sembunyikan? Teguh Karya tak menerjemahkan secara terang-terangan, malahan ia menutupnya rapat-rapat sampai tepatnya di akhir cerita, [SPOILER] lewat sebuah adegan, kita lihat Ibunda berdiri diluar halaman. Sendirian. Anak-anaknya yang sedari tadi berkumpul dengan ramai sudah pada masuk kerumah. Ia menoleh ke arah lain. Saput yang tak bisa ditembus, sesuatu yang hanya dirinya sendiri yang bisa mengerti. 

Ini bisa disebut sebagai adegan pamungkas : satu adegan yang dengan sempurna menjawab segala panjang pertanyaan kita tentang dimanakah keberadaan sang ibunda sepanjang film, juga turut menjelaskan ikhwal dan inti dari apa yang ingin disampaikan Teguh Karya. Adegan itu juga turut mengoles satu realitas pahit : Ibunda, pada masa tuanya, mungkin akan ditinggalkan sendirian tanpa keramaian anak-anaknya lagi. Menyoal hal lain, yang kurang saya sukai adalah struktur “semua-tokoh-yang-berkonflik-berkumpul-dan-masalah-selesai”. Formula seperti itu terlalu sering ada di film-film kebanyakan, walau sebenarnya bukan sesuatu hal yang salah pula. Pembabakan setelah konflik memang seharusnya adalah peredaan konflik, namun entah kenapa secara pribadi saya kurang suka melihat keumuman itu di film ini. Seakan-akan semua hal yang sulit secara kebetulan dapat dibenarkan, dan kebahagiaan meliputi semua tokoh. Teguh Karya juga nampaknya tidak mau membuat penyelesaian konflik itu terlihat monoton dan cepat jadi, makanya adu akting antar pemain cukup diperkasai, agar terlihat natural dan akrab. Walau dalam frame itu, saya masih merasa ingin mencari tahu tokoh-tokoh lain lagi. Semisal Fahri, atau tokoh diluar anggota keluarga itu (namun selalu ada membantu menyelesaikan permasalahan)----Budi. Tapi ini tentu soal opini saya saja, seterusnya Ibunda tentu bukan film yang mengganggu.

Menonton film ini memang bukan untuk mencari tahu petunjuk siapa dan ada apa dengan Ibunda. Ibunda adalah tokoh vital----poros dari segala problema yang disodorkan didepan layar, namun kita tahu benar ini film tentang keluarga. Akrab, hangat. Sejak awal, kita----penonton---- diperlakukan layaknya mereka : anak-anak sang Ibunda. Kita belajar dari sosoknya walau kita sendiri tak dapat mengenal dekat siapa dirinya. Ibunda kembali hadir---tepatnya sendirian di akhir film itu---- untuk menegaskan, ia memang tak dapat ditebak. Ia misterius dan ia hanya bisa dimengerti dalam cerminan anggota keluarga lain. 



Comments

  1. siang mb, saya ingin menanyakan jika ingin membeli atau mencari film ibunda ini dimana yah? atau mb ad softfilenya mungkin bisa saya ingin lihat film ini untuk kebutuhan peelitian saya dan saya tertarik dengan film ini.terimakasih mb untuk informasinya. :) bisa balas lewat email saya di radhita.millati@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. sama mba, saya juga cari2 filmnya, ga ketemu sampai sekarang.. kira2 ada saran ga mba bagaimana cara mendapatkan filmnya, terima kasih.

    ReplyDelete
  3. @Radhyta @Lidia Saya ada soft file-nya sih tapi format VCD ini.... itu juga dapetnya dari teman di satu rental di Jatinangor.

    ReplyDelete

Post a Comment

Other side of me

My MUBI

In Theaters