Review : A Better Tomorrow (1986)

Film Still

"Once a bad guy, you will never be a good guy again."


Beban Ho (Ti Lung) dan rasa tidak nyaman atas pekerjaannya sebagai bos Triad dan seseorang dibalik bisnis kejahatan, membawa Ho suatu ketika dalam persimpangan pikiran : apa ia harus berhenti atau tetap melanjutkan pekerjaannya. Sang sahabat sekaligus partner-in-crime, Mark (Chow Yun Fat) bersikeras membujuknya terus berada didunia hitam ini, sementara disisi lain batin Ho terusik oleh bujukan sang ayah yang sakit-sakitan dan sang adik yang mempunyai niatan menjadi polisi, Kit (Leslie Cheung). Pada satu titik, terjadilah sebuah tragedi yang membawa perubahan bagi hidup Ho sekaligus membuatnya tahu jelas, susahnya mencari jalan keluar didunia triad.

Film aksi kriminal bertema triad/mafia memang salah satu yang telah bicara banyak di perfilman Hongkong. Selain daya tarik, Hongkong juga berhasil menjelaskan bagaimana identitas film-film action mereka. Salah satu yang membantu membentuk identitas itu adalah John Woo. Sutradara yang satu ini memang bukan cuma dikenal di asia namun juga nama yang sudah tidak asing di Hollywood, diantaranya Face/Off dan salah satu sekuel Mission Impossible adalah misi dibawah tangannya. A Better Tomorrow datang sebagai film John Woo sebelum ia diborong ke Hollywood, dibintangi oleh bintang-bintang kelas kakap yang dikemudian hari juga namanya juga akan mendunia.

A Better Tomorrow-----seperti film aksi-kriminal dengan tema mafia/triad memang sudah memegang citarasa khas sineas Hongkong umumnya. Terutama yang tahu bagaimana style seorang John Woo pasti bakal tahu aksi heroik macam apa yang dia ciptakan. Gaya sinematografi yang slow motion, kobaran api dan cipratan darah yang di-shot sepenuh hati untuk menambah nilai estetis, semuanya ada disepanjang film berlangsung. Bersyukurlah John Woo menambahkan "hati" untuk film ini. Ia tak mau absen pada perasaan penonton dan menjadikan A Better Tomorrow cuma tontonan aksi selintasan. Maka isi cerita menjadi komponen yang juga utama, tidak hanya menyentuh dan memancing simpati penonton namun membuat penonton campur aduk pada konflik yang dihidangkan sepanjang film. 

Sebenarnya, untuk masalah porsi dan dominanisasi peran, gue pribadi merasa hampir ketiga aktor utama--- Ti Lung, Leslie Cheung, Chow Yun Fat---memegang bagian vital yang sama dan tak saling menandingi. Bahkan selain tiga aktor diatas, Waise Lee yang memerankan tokoh antagonis juga cukup punya bagian efektif sepanjang film. Well, alasan kenapa nama A Better Tomorrow lebih menonjol dengan sosok Chow Yun Fat, mungkin karena ia kebagian adegan aksi heroik yang lebih ketimbang yang lainnya. Aksi heroiknya ya yang style-nya John Woo sekali. Sisi liar nan elegannya berhasil ditampilkan lewat adegan yang didominasi oleh Chow Yun Fat. Ditambah lagi, peran yang dibawakan Chow Yun Fat paling eksentrik dan terlihat yang paling mewakili sosok "badass" diantara yang lain. Sementara sisi emosional lebih banyak jatahnya Leslie Cheung dan Ti Lung yang saling berkonflik sebagai saudara. 


Sepertinya John Woo memang tidak ingin menjual keseruan semata tanpa adanya drama berbumbu melankolis sehingga hasilnya, A Better Tomorrow malah bukan hanya film yang menjual adegan tembak-tembakan semata namun juga sukses menyentuh sisi personal penonton. Semakin menuju klimaks film ini menyelesaikan semua bagiannya dengan baik : sarat emosi namun dapat bekerjasama dengan keseruan aksi.

Dunia triad memang kejam, penuh pengkhianatan, penuh tragedi, ironis, air mata, dan akhirnya berujung kematian. Kalaupun tidak, maka harus ada yang berkorban. Mungkin begitulah yang ingin diutarakan John Woo di film ini.


Comments

  1. saya suka banget ma film ini pa lagi adegan pas ti lung baru keluar dari penjara and ngeliat chow yun fat lagi .....itu sedih banget

    ReplyDelete
  2. Hihi iya dunia triad memang begitu... ada pengkhianat, ada yang jatuh dan ada yang susah keluar dari dunianya.... Filmnya bisa deskripsikan semua itu dengan baik :)

    ReplyDelete

Post a Comment