Readers

Midnight In Paris : "Mencari Obat Untuk Masa Kini yang Jahat... Tapi Jangan Sampai Kecanduan."


(Tulisan lama yang juga dimuat di bicarafilm.com, mungkin lebih pas disebut kesan setelah menonton ketimbang review)


* "Mencari Obat Untuk Masa Kini Yang Jahat" sebelumnya adalah judul ulasan yang ditulis Makbul Mubarak di cinemapoetica.com, sebuah judul yang mendeskripsikan secara efektif isi dan identitas film ini. *


Kamu tahu siapa nama pria beruntung itu? Gill Pender. Ya, ejalah. Gill Pender. Ia seorang antisosial masa kini yang malah berkutat pada pemikiran-pemikiran klasik dan membelakangi jaman, ia juga sederhana dan bukan seseorang yang "modern". Bila aku mesti mencari pacar maka tolong carikanlah lelaki seperti ini. Ia bosan pada keramaian, pesta wine, canda dan obrolan para sosialita yang berkumpul. Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan mengagumi kecantikan sejarah, ia juga tak mau peduli dengan isi otak dan pendapat orang orang disekitarnya, yang ia tahu cuma dia dan pemikirannya sendiri yang---setidaknya----bagi dia benar. Yang paling harus digarisbawahi, ia salah satunya yang (juga) terobsesi dengan masa lalu.



Bagi mereka yang terlalu peka terhadap kenangan, menelusuri masa lalu adalah lebih dari sekedar nostalgia selintasan. Masa lalu adalah petualangan. Paul, salah satu tokoh yang kontra dengan Gill mendeskripsikan tipikal orang-orang yang terobsesi dengan masa lalu,

"Nostalgia is denial - denial of the painful present... the name for this denial is golden age thinking - the erroneous notion that a different time period is better than the one ones living in - its a flaw in the romantic imagination of those people who find it difficult to cope with the present. "

Ketika Paul mengatakan itu, aku langsung terpana pada lintasan kata yang berbaris rapi di sudut bawah layar LCD. Wow. Itu adalah tonjokan besar bagiku. Bagi kami, para orang orang yang terobsesi masa lalu. Tapi entah harus setuju atau tidak, tapi aku pasti akan punya reaksi yang sama dengan Gill : hanya diam, tak menjawab dan tersenyum lurus. Itu pendapat mereka, yang puas dengan masa sekarang. Mereka yang menikmati, mana mengerti pada ketidakpuasan kami yang bertubi-tubi?



Maka berjalanlah Gill ke jalanan Paris pada lewat tengah malam. Ada jam yang berdentang. Dari jauh sepotong badan mobil kuno nampak dan lalu berhenti didepannya. Menghampiri dan mengundangnya. Apakah itu? Acara menuju masa lalu! Ah, aku sungguh tahu betapa senang rasanya jadi Gill. Pasti! Bagaimana rasanya berpetualang meresapi aroma kota Paris 20-an sembari bertatap muka dan mengobrol bersama para idolamu?! Ah itu rasanya sama seperti aku bertemu John Hughes, Leslie Cheung, melihat dari dekat Judy Garland atau menikmati candaan romantisnya James Stewart. Itu adalah surga kami. Kebahagiaan. Gila, bila Gill saja sempat terpana dan terpukau kaget bagaimana aku? Aku mungkin.... ah. Gila. Sungguh beruntung bukan pria itu?



Sepanjang fragmen surealis nan romantis, ditambah ini di kota Paris, Gill adalah pijakan impian bagi kami----teman teman sesama pengobsesi masa lalu sepertinya. Seenak jidat bersenggama dengan masa lalu dan berbaur didalamnya memang tak lazim, tapi Gill masih mampu membuat kami semua iri dan ikut tersenyum sembari gemas ketika menontoni seragam aksinya di layar. Aku pernah bilang bahwa film itu refleksi kehidupan nyata. Midnight In Paris adalah salah satunya.

Ketidakpuasan dan keinginan untuk lari. Lalu berselingkuh dengan masa lalu. Menemui orang-orang yang dianggap sepemikiran, dan ketika impian itu dikabulkan Tuhan, atmosfir yang merangkum semua menjelaskan satu hal lagi : bahwa orang orang yang kita anggap terbaik ini pun tidak puas pada jaman mereka. Oh tidak, sebenarnya siapapun didunia ini tidak pernah puas dengan jaman yang sedang mereka lewati. Manusia, dan kehidupan adalah tentang ketidakpuasan.


Bersama Gill, kita diajak berpikir ulang. Mau terus diajak berputar-putar pada teori estetika masa lalu yang tak akan habis dijamah atau mencoba berdamai dengan keterbatasan hari ini?




P.S : Ini adalah pengalaman pertamaku dengan seorang Woody Allen. Tak pernah kukira ia seorang yang romantis, setidaknya ia mempresentasikan kemanisan bak gula yang pas lewat film ini. Owen Wilson yang selama ini terus bersandar pada kemasan komedi klise Hollywood 2000-an saja terlihat sangat menarik dan istimewa disini. Ditemani Rachel McAdams yang cantik dan segar, Marrion Cottilard yang manis semanis Paris, dan cast lain yang ikut menebar pesona (Adrien Brody, Kathy Bathes, Carla Bruni, si Hemingway Corey Stoll!). Sudah cukup jelas, Midnight In Paris adalah cerita Woody tentang mereka yang menyukai masa lalu dan suka mengeluh pada masa sekarang. Ya, harus ditonton. Pasti mereka jatuh cinta. Buktinya aku sangat :)



RATE : 5/5




Comments

  1. Baru beres download, thanks atas rekomendasinya, hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Other side of me

My MUBI

In Theaters