Readers

Catatan Menonton Tahun 2011

FIKSI. (2008)
"Semua kejadian itu ada tujuannya"

Mouly Surya menyutradarai Fiksi., sementara Joko Anwar yang menulisnya. And guess what? I love it. Gue suka tone muram yang melatari film ini, gue suka music scoringnya yang misterius dan tepat sasaran sepanjang film, gue suka aktingnya, gue suka detail filmnya, gue suka ceritanya, segala hal di film ini yang terkesan antik dan sulit didapetin ketika gue nonton film Indonesia.



Alur Fiksi. memang terkesan lamban, kaku dan dingin (sedingin mimik wajah Ladya Cheryl) tapi sampai terus mengikuti alur cerita, kita berhasil diikat Mouly menuju cerita Alisha yang "merusak" dunia nyata sebuah bangunan kumuh Rumah Susun. Menarik sekaligus menakutkan.



Tentu Ladya Cheryl adalah the biggest star difilm ini. Gue kasih nilai dia diatas 9. Aura saikonya pelan pelan mulai menggigit, sampai akhirnya makin menuju ke klimaks makin sesak rasanya meliat mukanya yang dingin itu. Fiksi. dirancang sederhana, tapi menarik, misterius, sekaligus lama lama ceritanya bertambah kelam, bahkan gelap.





The Boy In Striped Pajamas (2008)
"We're not supposed to be friends, you and me. We're meant to be enemies. Did you know that?"
Bruno (diperankan Asa Butterfield yang sepintas mirip Cillian Murphy versi mudanya) cuma perlu teman ketika ayahnya yang seorang petinggi Nazi (David Thewlis) pindah ke rumah dekat kamp para tahanan Nazi. Pindah rumahnya ini membawa Bruno bertemu Schmuel (Jack Scanlon) seorang anak salah satu tahanan. Persahabatan mereka pun mesti berakhir..... tragis.

Ada yang pernah nonton The Skeleton Key? Kalau tahu bahwa ending The Skeleton Key itu sedikit banyak membuat tensi keseluruhan ceritanya yang dibawah rata-rata jadi tiba tiba melambung hanya karena apa yang terjadi endingnya, mungkin The Boy In The Striped Pajamas hampir mirip seperti itu.

Alurnya mengalir lambat. Tidak ada bagian yang wah, semuanya cenderung datar. Tapi endingnya memang bisa ngerubah segalanya. Ngenes sekali rasanya. Sayangnya, bisa dibilang bagian emosi seluruh film ini cuma terletak di ending. Coba Mark Herman bisa menggali lagi sisi emosi maupun keironisannya dari struktur yang paling awal, The Boy In The Striped Pajamas mungkin akan memiliki efek yang lebih memorable dan "meremas" hati penonton secara total.

Dari segi akting, Vera Farmega tidak terlalu menonjol, malah lebih "keliatan" David Thewlis, sebagai ayahnya si Bruno dengan sosok kerasnya. Asa Butterfield dan Jack Scanlon terhitung lumayan bisa memvisualisasikan ke innocent-an anak anak dengan baik.
Entah bagaimana jadinya, menurut gue chemistry dan keakraban Bruno dan Schmuel kurang tergali, jadinya gue cuma bisa merasakan emosi keseluruhannya lewat adegan ending yang menyedihkan itu. Padahal kalau pendalaman ceritanya lebih optimal, gue pasti lebih peka buat ngeliat cerita persahabatan beda kubu ini. Sisi ironis dan tragisnya cuma bisa dirasakan diendingnya. maka film ini seperti drama menyedihkan yang seakan numpang lewat saja, tidak terlalu berkesan, meskipun mempunyai momen dan banyak part yang berpotensi menyentuh.

Btw, yang belum liat film ini, jangan liat gambar ini :

SPOILER! 

Adegan ini antara miris, menyedihkan, mengerikan, ngenes dan sebagainya :








Disturbia (2007)
"No, he can't see us. But trust me, he can feel us watching."
Oke, entah apakah Disturbia terinspirasi atau memang mengcopy ide cerita Hitchcock di Rear Window, tapi kita bakal mendapati sedikit banyak kemiripan Disturbia dengan Rear Window (Oh, juga mirip Fright Night minus vampir).

Sama sama hanya bersetting tempat disekitar rumah, dengan alat teleskop dan memata-matai, dan kehidupan tetangga yang membuat penasaran sekaligus misterius.
Mungkin kalau kita bicara Hitchcock sebagai versi klasik tentu jauh berat dengan yang satu ini. Gue kurang suka dengan alur cerita dan segala pembangunannya yang terkesan maksa dan gak pas. Entah karena DJ Caruso ingin juga menyelipkan love chemistry ala anak muda lewat sosok Ashley si tetangga baru Kale, atau karena semua konflik dan segala yang terjadi di film ini terkesan kurang natural, jadinya terkesan pembangunan cerita yang misterius disini jadi main-main. Cerita "pembunuh tinggal diseberang rumah" juga cenderung klise.

Kekuatan utama film ini adalah unsur thrillernya yang lumayan konsisten dari awal sampai menuju klimaksnya dipertengahan akhir. Mungkin Shia LaBeouf bukan James Stewart, tapi setidaknya dia lebih useful sebagai hero difilm ini ketimbang semua perannya di Transformers.
Disturbia bisa dibilang Rear Window dalam versi teenagersnya. Memang banyak bagian klise, dan rasanya memang menyebalkan menonton sesuatu drama thriller-mysteri yang dibubuhi "teen-romance" karena kebanyakan film film yang membubuhkan "teen romance" biasanya malah memporsi utamakan bumbu itu dan membuat keseluruhan ceritanya jadi kentang, seperti apa yang terjadi pada... Twilight. tapi setidaknya Disturbia tidak melupakan semua unsur ketegangan dan misteriusnya. Meskipun tidaklah sangat total tapi setidaknya ada juga film DJ Caruso yang lebih bagus ketimbang ketika dia bikin I Am Number Four. Oh lupa, itu mungkin karena yang produserinya Michael Bay kali ya?




Comments

  1. Yang Fiksi sama yg Disturbia saya belum nonton. :D

    Tapi yang The Boy in The Striped Pajamas itu saya udah nonton, dan saya setuju secara keseluruhan sma komentar2 kamu. :) Tapi ada nilai plusnya juga menurut saya karena berkat film itu saya jadi lumayan tau kehidupan pada saat zaman Nazi itu seperti apa. :)

    Kunjung2 blog saya juga ya, ada review2 filmnya juga. :)

    ReplyDelete
  2. @akmal hehe makasih kunjungannya :) The Boy In The Striped Pajamas menurut gue bisa jauh lebih baik lagi tanpa cuma unggul di endingnya aja. Kalau buat Fiksi, itu salah satu film indonesia yang bagus dari dekade ini menurut gue. baru kali ini gue nonton film Indonesia simpel, tapi keren begitu. Disturbia ga terlalu menarik sih, thriller remajalah. tapi sedikit banyak lumayan lah :D

    hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Other side of me

My MUBI

In Theaters