Readers

I Spit On Your Grave (2010) To Remember Meir Zarchi's 1978


Tulisan ini diedit ulang.



Sekitar tahun 2008 ketika masih SMP saya mendapati rumah sedang kosong. Ayah saya bekerja dan baru pulang sore sementara ibu saya keluar rumah untuk jalan-jalan dengan sanak keluarga lain. Kesempatan sendirian itu lalu saya manfaatkan untuk mengoprek koleksi DVD-DVD film (bajakan) punya kakak saya dan berharap akan mendapati sedikit banyak penampakan semi-telanjang dari film-film yang nampak dari gambarnya sudah duluan erotis. Sampai akhirnya pada suatu kali saya mendapati gambar cover ini disalah satu sampul DVD 10 in 1 itu :





Posternya kelihatan sangat provokatif dan mengundang bukan?

Akhirnya saya menyimpulkan dari gambar dan sinopsis dibalik sampulnya bahwa film ini "pasti diisi banyak ketelanjangan, yang berarti ini sepertinya menarik untuk ditonton untuk ngisi waktu senggang"

Tapi namanya saya masih ABG dan tidak tahu apa-apa, pengalaman menonton pertama kali adalah kejutan untuk jiwa yang polos. Yang saya dapati bukannya ketelanjangan yang ramah seperti di film-film Maxima Pictures saat era Dewi Perssik (waktu itu film DePe memang tengah hit) atau ketelanjangan model malu-malu kucing seperti Dibalik Cinta Istri-nya Liza Chaniago atau filmnya Malvin Shayna. Yang ada adalah rentetan adegan-adegan perkosaan yang sewaktu saya menontonnya amat terlihat brutal dan mengerikan. Sekarang tentu berbeda karena kalau menonton lagi rasanya adegan itu menjadi culun dan menggelikan. Bahkan versi remake-nya jauh tampil lebih meyakinkan untuk urusan mengumbar darah dan kekerasan.

Memang tercatat setelah dibuat oleh Meir Zarchi tahun 1978, remake-nya keluar pada tahun 2010 dengan penambahan karakter baru yaitu seorang polisi. Adanya tokoh yang identik sebagai penegak keadilan disini disajikan bertolak belakang karena bukannya sebagai penyelamat, ia malah ikut bertindak sebagai pelaku pemerkosaan. Bahkan tokoh ini punya resume yang lebih kejam lagi karena dipotretkan mempunyai sisi lain yaitu ayah dan suami yang penyayang di luar aksi kriminalitas yang sedang ia kerjakan.  Ceritanya sendiri tidak terlalu banyak perubahan kecuali keputusan untuk membuat versi yang lebih mengacu pada teknologi masa kini (penggunaan ponsel atau handycam yang digunakan para karakternya). 



Kalau diingat lagi, dua-duanya bukan film yang buruk. Saya bahkan sangat menyukai versi aslinya, terlepas dari kebencian Roger Ebert yang mengatai film tersebut adalah sampah "yang membuatnya merasa kotor sesudah menontonnya". Tanggapan serupa juga hadir dengan tudingan bahwa film ini terkesan sengaja eksploitatif walau Meir Zarchi menolak menyebut filmnya hadir mewakili ranah eksploitasi. Zarchi mengaku terinspirasi cerita seorang perempuan yang mengalami perkosaan namun mendapatkan perlakuan tidak adil dari pihak berwajib. Ia membuat I Spit On Your Revenge (juga berjudul Day Of The Woman) untuk memperlihatkan sisi korban yang membalas dendam habis-habisan karena kadang pengadilan pun tak bisa melacak pelaku apalagi mengadilinya.  

Entah memang sengaja atau tidak sengaja menjadi film eksploitasi, kekerasan serta seks yang dibawa I Spit On Your Grave memang bukan yang paling kejam lagi sekarang. Hanya di masanya, mungkin. Harus dipercaya bahwa semakin maju jaman, semakin terbuka juga peluang untuk adanya kreasi mengumbar sadisme yang lebih fatal lagi.  Misalnya kalau saya mengingat I Spit On Your Grave dan membandingkannya dengan A Serbian Film, rasanya Serbian jauh lebih mengerikan dan tidak berperikemanusiaan lagi. Mungkin bisa saja untuk membuat saya lebih nyaman memandang dua film tersebut, saya memberikan persepsi film-film itu adalah sekedar eksploitasi, dan bila ada cerita atau kesan khusus tentu adalah nilai tambah bagi film tersebut. 

Cuma memang yang harus diingat bahwa kekerasan adalah bagian dari kehidupan. Dan media film fungsinya "hanya" sebagai pameran yang dihadiri penonton, sehingga untuk menghadirkan apa yang dianggap tidak manusiawi itu sendiri berpulang kepada sanggup atau tidak setiap penontonnya. Tentu terserah anda apakah bisa atau tidak bisa mentolerir suatu film berdasarkan kekerasan, sadisme dan kekurangajarannya. Kalau I Spit On Your Grave, saya sih bisa.



*Film I Spit On Your Grave - 1978 bisa dibilang berjasa untuk peralihan masa ABG saya menuju mengenal liarnya dunia dewasa.


Comments

  1. rumah kosong,ga ada siape2,dvd player ada,kaset2 yang 6 in 1 bertataian dimana,serius,kalimat pembuka diatas benar2 persis sama ane pas umur 11 taonan,dimana ane banyak belajar,bahwa ternyata,there are a lot nudity out there

    ReplyDelete

Post a Comment

Other side of me

My MUBI

In Theaters