Review : Summer Time Machine Blues


Gue jarang banget tahu dan menjamah film-film Jepang. Film terakhir yang gue tonton Dwilogi Crows Zero yang lumayan bad-ass dan gue sangat suka itu (apalagi seri keduanya). Yang gue tahu soal film jepang itu kalau gak horornya, ya... absurditasnya. Semisal kaya Tokyo Gore Police, semua film Takashi Miike, atau apapun itu yang berhubungan dengan orang Jepang selalu bernotabene "sakit" dipandangan gue. 


Emang sih orang Jepang itu unik. Aneh-aneh malah. Aneh gimana mereka bisa bikin kita tahu ada sesuatu yang namanya Sukatoro, aneh karena dengan segala mimik muka-kelakuan mereka disemua film yang ga pernah lepas dari pelanga-pelongo bego, aneh karena... dengan keanehan mereka, mereka bisa menjelma jadi sebuah negara kecil yang punya banyak hal yang jauh lebih superior dibanding negara kita. Intinya, keabsurdan mereka itu malah jadi kelebihan mereka sekaligus mungkin, hem, 'jati diri' mungkin ya. 

Gue udah mulai tertarik dan suka pas liat poster film berjudul Summer Time Machine Blues ini. Full colour, rada-rada norak, mendeskripsikan kalau film ini nih bakal penuh dengan kekonyolan dan keanehan. Gambar seorang cowok berbaju putih keringetan (yang kelak hari bernama Eita dan gue akan jatuh cinta sama dia sepanjang film) dan ornamen-ornamen nyentrik lainnya bikin gue memutuskan buat mantap mendownload film ini. 

Summer Time Machine Blues sendiri bercerita.. ehm, singkatnya, soal sekumpulan anak-anak klub Sci-Fi yang sangat-sangat kurang kerjaan disebuah musim panas. Suatu hari, lewat sebuah insiden "slow motion" yang bego banget, mereka merusak remote AC yang bisa dibilang harta berharga mereka untuk menghadapi kegerahan musim panas. Ketika ada mesin waktu yang tiba-tiba ada di ruang klub mereka, mereka cukup punya satu ide mulia (atau bisa dibilang cetek)  : mengambil remote AC dari masa lalu!


Sekilas, mungkin film ini dari posternya aja udah menjanjikan bakal ngejual banyak kebodohan, kekonyolan, kelucuan khas Jepang. Tapi itu gak 100% bener. Karena Katsuyuki Motohiro udah nyiapin secara detil bahkan sejelas-jelasnya kalau semua materi time machine yang dia bikin buat film ini serius, jadi jangan dipikir kalau semisal ini cuma film konyol yang brainless, karena ini film bahkan lebih realistis, sederhana dan lebih jujur ketimbang Back To The Future.
Mungkin awalnya kita bakal bingung dan gak mengerti "apa sih maksudnya ini?" tapi semakin lanjut, semuanya pun jadi make sense dan nyambung, bahkan gue sendiri salut sama sutradaranya yang ternyata se'serius' ini buat bikin sebuah komedi dengan skrip 'cetek'. 

Akting dari Eita cs. sendiri (Terutama Eita kyaaaa XD) emang yang paling banyak jadi boneka humor sepanjang film, adaaaaa aja ulah mereka yang kurang kerjaan kesana-kemari gak karuan. Yang paling gue demen kebegoannya itu si Niimi sama Soga yang mukanya udah pelanga-pelongo cenga-cengo ga jelas. Bodohlah pokoknya. Haha. Cast lain sebagai pemain pendukung ada Haruka (Ueno Juri) dan Yui (Yoko Maki) yang bakal kalian lihat sebagai satu-satunya pemandangan bening buat cowok-cowok di film ini. Yah, gue sih ga terlalu mikirin dua cast terakhir, soalnya gue terlanjur cuma merhatiin ini :

Itu adalah alasan kenapa kosakata gaul sekarang nyebutnya "UNYU"

Salah banget buat mikir kalau Summer Time Machine Blues itu cuma sekedar komedi-lintas-waktu yang bakal sekali lewat aja, dengan segala jualan kekonyolan dan kebodohannya. Emang bener sih, mereka ngejual kekonyolan dan kebodohan buat ini, tapi Summer Time Machine Blues ternyata punya visi gak sekadar buat nyodorin kita lawakan, tapi lebih dari itu, dia kasih lihat kita hakikat mesin waktu sebenarnya, dan bahkan kalau gak main-main-------- ada moral of story yang tersimpan secara sederhana di film ini.


Kita tahu 17 Again, Big, atau Hot Tube Time Machine, adalah sesuatu yang mulanya juga bermula dari remeh temeh dan setelah itu semuanya jadi ambisius dan super serius karena mengangkat tema "mesin waktu" disitu. Maksud gue adalah.. dengan begonya, mereka semua yang ada di film ini (Eita cs.) nemuin mesin waktu cuma buat misi cetek ngambil sebuah remote di hari kemarin? Sementara Zac Efron mau kembali kemasa mudanya, sementara Tom Hanks mau cepet cepet jadi gede, sementara semua orang pengen dengan rakusnya kemana-mana ketika dia nemuin mesin waktu, humor Jepang disini cuma bermula dengan niat mulia sekumpulan anak-anak yang bahkan ga tau apa itu Sci-Fi buat ngambil sebuah remote AC. Dan apa yang kita sebut cetek itu sekarang malah terasa lebih sederhana dan gak neko-neko ketimbang semua film-film tadi.

Kesimpulannya, gue suka dengan film ini. Meskipun gak mencoba nepotisme karena berkat film ini juga gue tahu ada makhluk unyu bernama Eita, tapi lepas dari itu, gue emang suka film ini. Ini tipikal film yang cocok ditonton dirumah siang-siang panas pas lagi gak ada kerjaan.... persis sama kaya apa yang kejadian di filmnya. 

Summer Time Machine Blues itu humor musim panas khas Jepang yang bikin skrip dengan unsur sci-fi dengan jati dirinya sendiri. 

Jadi meskipun itu diawali dari sebuah kejadian remeh temeh semisal "ngambil remote AC" tapi dari sesuatu yang sesimpel itu juga kita suka sama semua komedi yang dihadirin sepanjang film, tentunya sambil tetep label 'absurditas' itu nempel di jidat orang orang Jepang ini.



Rate : 3.5/5


Comments

  1. Makasih... Thank you banget suka nih ama film ini... izin copas ya infonya

    ReplyDelete
  2. silahkan copas :) asal memuat nama gue sebagai penulisnya ya hehe

    ReplyDelete

Post a Comment