Kamis, 11 Agustus 2016

Fallen Angels (1995) : Bahwa Jatuh Cinta dan Patah Hati Kadang Sama Saja

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/9d/72/d6/9d72d6e67c21e0f442c7a2c26431ae7f.jpg


Fallen Angels  // 1995 // Sutradara : Wong Kar Wai, Hongkong // Pemain : Leon Lai, Michelle Reis, Takeshi Kaneshiro, Charlie Yeung, Karen Mok



“The road home isn’t very long and i know i’ll be getting off soon...
But at this moment, i’m feeling such a lovely warmth.”



Semua orang yang memuja Chungking Express mungkin bisa menemukan dirinya kembali jatuh cinta pada Fallen Angels. Atau mungkin juga sebaliknya.

Fallen Angels yang sering disebut sebagai spiritual sequel dari Chungking Express ini memang memiliki banyak referensi film tersebut mulai dari kesamaan tempat, karakter dan segala trivianya (karakter peranan Takeshi Kaneshiro mengatakan ia menjadi bisu semenjak memakan kaleng buah nanas yang kadaluarsa sebagai rujukan untuk karakter polisi yang juga diperankannya di Chungking. Juga pola hubungan wanita-pria pembunuh bayaran yang sama seperti karakter Faye dan Tony Leung. Selain itu banyak lagi hal-hal kecil yang seakan direka ulang di film ini).


Senin, 18 Juli 2016

Sedikit Catatan Tentang Persona (1966)


Apa yang membuat kita menjadi kita? Yang membuat kita bisa merasa kita manusia, apa itu sebenarnya merasa menjadi manusia? 

Pertanyaan ini menggugat kepala saya dan itu terjadi seusai menonton Persona (1966, Ingmar Bergman). Film ini akhirnya menuntaskan semua kebingungan saya ketika dahulu masih bertanya apa itu personality, kenapa kebanyakan dari kita bisa menjadi seseorang yang lain dan lalu menjalani pribadi yang lain, karena saya selalu percaya semua nampak begitu tidak teratur; kepribadian menjadi semacam bunglon yang menyesuaikan dengan tempat, siapa orang yang saya hadapi, situasi dan faktor-faktor penentu lainnya. 

Minggu, 26 Juni 2016

The Last Picture Show (1971) : Jalan Putus Asa Dalam Seksualitas

http://www.unsungfilms.com/wp-content/uploads/2014/03/The-Last-Picture-Show-at-Unsung-Films51.png



The Last Picture Show  // 1971 // Sutradara : Peter Bogdanovich, Amerika // Pemain : Timothy Bottoms, Jeff Bridges, Cybil Shepherd, Ben Johnson, Ellen Burstyn


Sebuah pepatah lama bilang bahwa "it takes a whole village to raise a kid" atau bagaimana peran masyarakat dan lingkungan mampu memegang pengaruh pada diri seseorang sejak ia kecil sampai menjelang dewasa. Sekarang film Peter Bogdanovich, The Last Picture Show (1971) seperti ingin menghadirkan wacana soal masyarakat dan lingkungannya itu sebagai asal muasal tempat banyak anak-anak generasi baru mulai berkembang.

Gambaran kota kecil itu adalah Anarene tahun 1951 sementara anak-anak generasi baru yang mulai berkembang masing-masing adalah Sonny Crawford (Timothy Bottoms yang tampan memainkan sosoknya yang rapuh), Duane (Jeff Bridges) yang berlagak bak jagoan dan punya pacar cantik Jacy (Cybil Shepperd)----disini berlagak seperti karakter Regina George. Mereka semua saling terkait begitupun profil warga-warga lain diantaranya Sam The Lion (Ben Johnson) sang pemilik tempat-tempat hiburan di Anarene yang bagai "tetua kampung" dan disegani, Ruth (Cloris Leachman) seorang istri guru olahraga yang kesepian, Lois (Ellen Burstyn) ibu Jacy yang pembosan dan banyak lagi. Berkumpulnya banyak karakter dan permasalahan yang silih berganti menjadikan filmnya hampir bisa dijadikan soap opera atau mungkin bila di Indonesia, nampak seperti dunia dalam sinetron stripping. Tapi bedanya tentu ini adalah film berdurasi 118 menit yang disajikan padat tanpa perpanjangan dan sampai ke akhir akan lebih cocok disimpulkan semacam novel fiksi 400 halaman yang difilmkan. Dan memang asal muasalnya diadaptasi dari novel karangan Larry McMurty.

Jumat, 24 Juni 2016

Bedevilled (2010) : Tipisnya Perbedaan Desa dan Kota

http://www.filmlinc.org/wp-content/uploads/2015/07/bedevilled_film.jpg

 Bedevilled // 2010 // Sutradara : Jang Cheol-Soo, Korea Selatan // Pemain : Seo Young-Hee, Hwang Geum-Hee, Bae Sung Woo, Park Jeong Hak
 


Film ini dibuka dengan pemandangan satu jalanan di kota Seoul dimana keramaian terlihat : daerah pertokoan, klub, banyak orang-orang berlalu lalang dan mobil yang melintas padat. Tapi dalam keramaian itu pula satu peristiwa terjadi, seseorang meminta bantuan dan tidak ada yang mempedulikannya. Tokoh utama kita, Hae Won (Ji Sung Won) juga memilih cara serupa : ia menutup kaca mobil dan segera menyetir mobilnya tanpa ragu.

Pembukaan film ini amat baik bukan saja untuk memperkenalkan sikap yang diambil protagonis kita namun potret sebuah lingkungan perkotaan yang sibuk dan melahirkan orang-orang dingin tanpa empati. Ada anggapan bahwa kota besar dan lalu lintas macet yang membuat harus menunggu berjam-jam membuat kita tidak lagi memikirkan hal lain selain menuntaskan pekerjaan lalu sampai ke rumah dengan tenang. Tidak ada waktu untuk melihat sekitar apalagi menolong orang lain yang tidak dikenal. Isu inilah yang tampak dibahas Bedevilled dan dengan amat efektif tergambar pada pembukaannya.

Rabu, 15 Juni 2016

Me and You and Everyone We Know (2005) : Antara Kita dan Bahagia yang Sederhana



Me and You and Everyone We Know // 2005 // Sutradara : Miranda July, Amerika // Pemain : Miranda July, John Hawkes, Miles Thompson, Brandon Ratcliff


Menonton Me and You and Everyone Know adalah sebuah pengalaman yang aneh. Tapi selesai menontonnya, ada perasaan tenang dan bahagia sama seperti menonton film drama cinta dengan ending berbunga-bunga. Atau malah, lebih dari itu.


Sick and strange society, loneliness, desperation in digital era seakan menjadi tema yang merangkai keseluruhan film ini. Apakah ini film komedi romantis? Memang tapi nampaknya kurang tepat juga karena filmnya membahas hal yang lebih besar dari itu. Apa ini film tentang kedewasaan yang dipaksakan hadir seiring perkembangan jaman dan teknologi? Tentang eksplor seksualitas? Atau mungkin tentang kesepian yang bahkan terlalu egois untuk dibagi kepada orang lain? Semua pertanyaan nampak bisa dijawab dengan satu jawaban ya oleh film ini. Tapi saya paling suka menganggap film ini bicara hal paling jujur tentang kehidupan, setidaknya kehidupan yang sedang tergambar saat segala yang virtual sudah menjajaki tiap hari kita. Film ini diolah tahun 2005, jadi saya rasa memang pas untuk memotret masa dimana internet mulai memasuki masa perkembangan sampai semakin suburnya sebelas tahun kemudian.


Senin, 30 Mei 2016

Representasi Kekerasan dan Perempuan Dalam An Unseen Enemy (1912)


An Unseen Enemy // 1912 // Sutradara : D.W Griffith, Amerika // Pemain : Lillian Gish, Dorothy Gish, Harry Carey, Robert Harron


Minggu kemarin saya menonton An Unseen Enemy, film bisu hitam-putih berdurasi 15 menit karya D.W Griffith. An Unseen Enemy menceritakan dua gadis bersaudara yang ditinggal mati sang ayah dan mendapat harta sebagai warisan peninggalannya. Oleh sang kakak, harta itu disimpan di sebuah brankas rumah mereka namun ternyata diketahui keberadaannya oleh sang pembantu yang berniat jahat. Maka kemudian bagian menegangkannya lahir ketika sang pembantu bersekongkol dengan seorang pria untuk membobol brankas tersebut sementara di ruang sebelah Gish bersaudara mengunci pintu karena ketakutan. Hanya lewat lubang di sebuah dinding, sang pembantu meneror mereka dengan mengacungkan sebuah pistol. 

Selasa, 17 Mei 2016

Greenberg (2010) : Simpati Untuk Karakter Tak Bersimpati



Greenberg// 2010 // Sutradara : Noah Baumbach, Amerika // Pemain : Ben Stiller, Greta Gerwig, Rhys Ifans, Jennifer Jason Leigh



Ada saat-saat di dalam hidup kita dimana kita merasa gagal, bersembunyi dibalik penyesalan sekaligus kehancuran, tidak tahu apa yang akan dilakukan di masa depan dan akhirnya mengambil jeda yang entah sampai kapan akan kita tinggalkan. Fase itu disebut fase tersesat dan sedang dialami oleh Roger Greenberg.

Greenberg (diperankan dengan efektif oleh Ben Stiller) adalah pria di usia 40-an, gagal meraih mimpi dengan band rock-nya dan memutuskan tinggal untuk sementara di rumah kakaknya yang sedang berlibur ke Vietnam. Greenberg yang pupus dengan cita-citanya lalu banting setir menjadi tukang bangunan dan berjanji akan membangun rumah untuk hewan peliharaan keluarga kakaknya yang tentu saja hanya alasan tipis dan basa-basi saja.