Jumat, 11 November 2016

Film Pendek : Are You The Favorite Person of Anybody (2005)


https://s3.amazonaws.com/auteurs_production/images/film/are-you-the-favorite-person-of-anybody/w1280/are-you-the-favorite-person-of-anybody.jpg
Are You The Favorite Person of Anybody? // 2005 // Sutradara : Miguel Arteta, Amerika // Pemain : Miranda July, John C. Reilly, Mike White

Miranda July yang lewat Me, You and Everyone We Know (2005) bicara tentang orang-orang kesepian dan putus asa dalam budaya digital (film yang sangat baik, secara jelas mewakili bagaimana kehidupan dan berbagai jenis orang di internet), bersama Miguel Arteta pernah membuat film pendek berjudul Are You The Favorite Person of Anybody di tahun yang sama. Di film  ini ia menjadi penulis. Are You Favorite yang hanya berdurasi sekitar 4 menit memasang nama aktor John C. Reilly, Mike White serta Miranda July sendiri. Amat sangat sederhana sebenarnya dan jangan harapkan ini adalah film pendek dengan narasi umum, melainkan lebih seperti film yang dibuat apa adanya dan berdasarkan pada kekuatan gagasan. Namun hal yang patut dipuji adalah bagaimana gaya Miranda July terlihat lagi. Ia adalah seseorang yang mampu memperlihatkan ide paling mungil dan sederhana, bahkan mungkin terkesan sepele namun kemudian bisa menjabarkannya dengan powerful. Para aktornya juga mendukung untuk membuat film kecil ini menjadi lebih kuat dan dalam; lihat ekspresi John C. Reilly setiap bertanya atau yang paling saya sukai adalah Mike White sebagai orang kedua yang kebetulan lewat. 

Senin, 24 Oktober 2016

Tokyo.Sora (2002) : (Setengah) Cerita Perempuan-Perempuan Kesepian

http://www.onderhond.com/style/site/tokyo-sora-2.jpg

Tokyo.Sora // 2002 // Sutradara : Hiroshi Ishikawa, Jepang // Pemain : Yuka Itaya, Haruka Igawa, Manami Honjo, Keishi Nagatsuka


 Aku ingin menemanimu menghidupkan kipas angin
Lalu meneguk air mineral yang dingin.
Aku ingin menemanimu
Menyalakan televisi, menonton film biru dan mengisap candu
Aku ingin menemanimu bermain-main dengan sepi di kamarmu
   (Aku Ingin Menemanimu – Acep Zamzam Noor)


Sajak milik Acep Zamzam Noor itu mendadak teringat ketika saya melihat adegan seorang perempuan yang nampak sedang menonton film porno didengar oleh perempuan lain di kamar sebelah. Tokyo.Soranama film iniyang saya anggap aneh karena ketika usai menontonnya pertama kali, saya bingung ingin mendeskripsikan filmnya bagaimana.

Lebih aneh lagi ketika ternyata kebanyakan cerita-cerita itu bisa terasa mengesankan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebenarnya potret keseharian (portrait of everydayness) memang bukan hal baru melainkan cara yang sering dilakukan sutradara-sutradara lain untuk bertutur. Lepas dari dramatisasi berlebihan. Tanpa struktur plot atau babak-babak. Contoh paling besar adalah Richard Linklater dalam Boyhood, sebuah studi selama 12 tahun tentang seorang anak yang tumbuh besar dan melewati banyak peristiwa dalam hidupnya. Semua berjalan mengalir layaknya sebuah kehidupan biasa, minim konflik dan hal yang paling membekas adalah bagaimana perubahan hidup para karakter secara fisik dan emosi dari tahun ke tahun membuat kita merasa seperti bercermin.

Rabu, 05 Oktober 2016

Begin Again (2013) : Bintang-Bintang yang Tersesat


 http://stagebuddy.com/wp-content/uploads/2014/06/beginagain.jpg
Begin Again  // 2013 // Sutradara : John Carney, Amerika // Pemain : Keira Knightley, Mark Rufallo, Adam Levine, Catherine Keener, Hailee Steinfeld


Orang-orang berbakat ada di banyak tempat dan seringkali tidak tahu bahwa mereka berbakat. Seringkali juga mereka lepas dari perhatian dan tidak ditemukan, berakhir di tempat-tempat dimana mereka tidak seharusnya berada. Kafe-kafe yang gaduh. Jalanan sibuk dimana orang-orang berangkat kerja sehingga tidak sempat untuk berpikir mereka berharga. Beberapa mungkin berharap momen yang tepat untuk ditemukan, beberapa tidak cukup peduli apakah dia berbakat atau tidak berbakat, apalagi untuk mau ditemukan. 

Begin Again adalah cerita tentang orang-orang yang berbakat tersebut, yang tersesat dalam perjalanan mereka untuk mempertahankan mimpi saat realita tidak seindah bayangan.

Minggu, 25 September 2016

Writer's Choice : 5 Film Tentang Pernikahan



Saya menyebutnya 5 film pilihan bukan 5 film terbaik. Pertama, karena begitu banyak film-film terbaik dan yang tentu belum saya tonton sehingga tidak ingin tulisan ini menjadi terasa sok jago membicarakan mana yang paling hebat. Kedua, 5 judul film ini lebih enak dibahasnya karena mampu mempresentasikan sesuatu tentang kehidupan pernikahan, bukan hanya karena embel-embel terbaik. Ketiga, karena ini tulisan yang sebenarnya berawal dari spontanitas tengah malam sehingga hanya 5 film pilihan dan tidak lebih banyak sehingga mungkin ada judul-judul lain tidak tersebut. Yang sepengetahuan saya saja, yang terlintas di pikiran (atau yang baru-baru ditonton) dam yang menurut saya menarik isinya untuk ditelaah.

Jadi ini dia.
  

1.     45 Years (Andrew Haigh, 2015)


http://m.wsj.net/video/20151124/film45years/film45years_1280x720.jpg


45 Years memperlihatkan kehidupan pernikahan yang dibangun dengan baik selama bertahun-tahun ketika peranan istri dan suami yang saling mengisi mendadak mempertanyakan diri mereka sendiri tepat saat kenangan lama masuk menyelinap. Ada emosi yang berusaha diredam. Ada diri yang berusaha dikendalikan. Film ini memotret kebimbangan sang istri karena mendadak, ilusi "the one" dan "glory" itu tidak lagi seperti bayangannya.


Kamis, 11 Agustus 2016

Fallen Angels (1995) : Bahwa Jatuh Cinta dan Patah Hati Kadang Sama Saja

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/9d/72/d6/9d72d6e67c21e0f442c7a2c26431ae7f.jpg


Fallen Angels  // 1995 // Sutradara : Wong Kar Wai, Hongkong // Pemain : Leon Lai, Michelle Reis, Takeshi Kaneshiro, Charlie Yeung, Karen Mok



“The road home isn’t very long and i know i’ll be getting off soon...
But at this moment, i’m feeling such a lovely warmth.”



Semua orang yang memuja Chungking Express mungkin bisa menemukan dirinya kembali jatuh cinta pada Fallen Angels. Atau mungkin juga sebaliknya.

Fallen Angels yang sering disebut sebagai spiritual sequel dari Chungking Express ini memang memiliki banyak referensi film tersebut mulai dari kesamaan tempat, karakter dan segala trivianya (karakter peranan Takeshi Kaneshiro mengatakan ia menjadi bisu semenjak memakan kaleng buah nanas yang kadaluarsa sebagai rujukan untuk karakter polisi yang juga diperankannya di Chungking. Juga pola hubungan wanita-pria pembunuh bayaran yang sama seperti karakter Faye dan Tony Leung. Selain itu banyak lagi hal-hal kecil yang seakan direka ulang di film ini).


Senin, 18 Juli 2016

Sedikit Catatan Tentang Persona (1966)


Apa yang membuat kita menjadi kita? Yang membuat kita bisa merasa kita manusia, apa itu sebenarnya merasa menjadi manusia? 

Pertanyaan ini menggugat kepala saya dan itu terjadi seusai menonton Persona (1966, Ingmar Bergman). Film ini akhirnya menuntaskan semua kebingungan saya ketika dahulu masih bertanya apa itu personality, kenapa kebanyakan dari kita bisa menjadi seseorang yang lain dan lalu menjalani pribadi yang lain, karena saya selalu percaya semua nampak begitu tidak teratur; kepribadian menjadi semacam bunglon yang menyesuaikan dengan tempat, siapa orang yang saya hadapi, situasi dan faktor-faktor penentu lainnya. 

Minggu, 26 Juni 2016

The Last Picture Show (1971) : Jalan Putus Asa Dalam Seksualitas

http://www.unsungfilms.com/wp-content/uploads/2014/03/The-Last-Picture-Show-at-Unsung-Films51.png



The Last Picture Show  // 1971 // Sutradara : Peter Bogdanovich, Amerika // Pemain : Timothy Bottoms, Jeff Bridges, Cybil Shepherd, Ben Johnson, Ellen Burstyn


Sebuah pepatah lama bilang bahwa "it takes a whole village to raise a kid" atau bagaimana peran masyarakat dan lingkungan mampu memegang pengaruh pada diri seseorang sejak ia kecil sampai menjelang dewasa. Sekarang film Peter Bogdanovich, The Last Picture Show (1971) seperti ingin menghadirkan wacana soal masyarakat dan lingkungannya itu sebagai asal muasal tempat banyak anak-anak generasi baru mulai berkembang.

Gambaran kota kecil itu adalah Anarene tahun 1951 sementara anak-anak generasi baru yang mulai berkembang masing-masing adalah Sonny Crawford (Timothy Bottoms yang tampan memainkan sosoknya yang rapuh), Duane (Jeff Bridges) yang berlagak bak jagoan dan punya pacar cantik Jacy (Cybil Shepperd)----disini berlagak seperti karakter Regina George. Mereka semua saling terkait begitupun profil warga-warga lain diantaranya Sam The Lion (Ben Johnson) sang pemilik tempat-tempat hiburan di Anarene yang bagai "tetua kampung" dan disegani, Ruth (Cloris Leachman) seorang istri guru olahraga yang kesepian, Lois (Ellen Burstyn) ibu Jacy yang pembosan dan banyak lagi. Berkumpulnya banyak karakter dan permasalahan yang silih berganti menjadikan filmnya hampir bisa dijadikan soap opera atau mungkin bila di Indonesia, nampak seperti dunia dalam sinetron stripping. Tapi bedanya tentu ini adalah film berdurasi 118 menit yang disajikan padat tanpa perpanjangan dan sampai ke akhir akan lebih cocok disimpulkan semacam novel fiksi 400 halaman yang difilmkan. Dan memang asal muasalnya diadaptasi dari novel karangan Larry McMurty.